Nina Nursuhaniah

Mother, teacher, books lover, moviegoer, and traveller wanna be.... ...

Selengkapnya
Navigasi Web
IBUIBU WARUNG

IBUIBU WARUNG

Jika berangkat kerja agak siang, biasanya ada saja gangguannya. Seperti kejadian hari ini. Begitu naik angkot (angkutan kota), ternyata aku seangkot dengan ibu-ibu yang baru pulang belanja dari pasar. Tentu saja angkot pun penuh dengan barang belanjaan hingga aku agak kesulitan ketika mau duduk.

Sebetulnya aku sudah menolak naik ketika sang sopir menawariku. Tetapi perkataannya seakan menghipnotisku untuk naik. Aku pun akhirnya mengalah dan memutuskan untuk naik. Begitu duduk, semerbak aroma rempah, wangi sayuran segar, bay pindang tongkol, dan wangi bawang daun, langsung tercium. Aromanya bersatu padu, hehe. Alhamdulillah. setumpuk pete yang teronggok manis di dekat lututku tak ikut mengeluarkan aroma karena masih terbungkus. Enggak kebayang kalau mereka ikut mengeluarkan aromanya!

Hmm, wangi bodyshop strawberry flavour body mist yang kusemprotkan tadi pagi langsung menguap begitu saja. Kalah tajam dengan aroma belanjaan ibu-ibu. Mudah-mudahan saja wangi bawang daun dan segala aroma semerbak yang ada di dalam angkot tak menempel di bajuku. Semoga!

The journey has just begun. Suasana dalam angkot sangat rame. Ibu-ibu mengobrol dengan suara yang lumayan keras. Sepertinya mereka memang sudah sering bertemu. Setidaknya sering seangkot bareng. Makanya seperti sedang reuni, rame! Mau tak mau akhirnya aku pun ikut menikmati obrolan mereka karena tak membawa benda penyelamat, head set. Ternyata yang mereka obrolkan lebih banyak tentang dagangannya dan sesekali mereka membicarakan tentang keluarganya.

Angkot yang kutumpangi beberapa kali berhenti menurunkan penumpang. Sang sopir dengan sigap membantu menurunkan barang belanjaannya. Tentu saja hal itu membuat perjalananku makin panjang. Hmmm, aku beberapa kali menarik nafas. Sepertinya hari ini akan datang kesiangan. Duh!

Akhirnya aku menghela nafas lega ketika di dalam angkot tinggal satu orang ibu dengan belanjaannya. Artinya, angkot yang kutumpangi akan semakin cepat sampai. Tapi ternyata, ujian belum selesai. Ibu warung terakhir, tidak turun langsung di pinggir jalan seperti penumpang yang lain. Tetapi diantarkan langsung ke depan rumahnya. Sepertinya sudah ada agreement sebelumnya dengan sang sopir. Astagfirullah, rupanya angkot ini sudah berubah jadi Grab car!

Setelah menurunkan ibu yang terakhir, sang sopir segera menginjak pedal gasnya. Angkot pun melaju lebih cepat dari sebelumnya. Sepertinya dia paham akan kegalauan para penumpang yang harus landing di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB. Kebetulan penumpang yang tersisa hanya aku dan beberapa siswa berseragam SMP dan SMA. Sebelum turun aku tak lupa sedikit curhat kepada pak sopir. Menyampaikan keberatan mengapa menolak seangkot dengan ibu-ibu warung yang baru pulang belanja dari pasar. Bukan tak suka tapi lebih kepada efisiensi waktu saja. Angkot yang penuh dengan belanjaan akan lebih lama sampai di sekolah tujuanku karena harus sering menurunkan penumpang dengan belanjaan terlebih dahulu. Bapak sopir mendengarkan curhatanku dengan seksama dan tak protes.

Alhamdulillah aku tak datang kesiangan hari ini. Mesin Scan Finger menunjukkan angka 07.00 ketika kutempelkan jariku. Alhamdulillah. Semangat kerja!

***RN***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

search